Wanderer Camp dalam Sebuah Catatan, Refleksi Membangun Harmonisasi Antara Manusia, Budaya dan Lingkungan

Event

Menjadi yang pertama dalam segala hal selalu mengesankan. Banyak pelajaran, pengalaman dan membuka kesadaran untuk beranjak menuju langkah berikutnya.

Seperti halnya kegiatan Wanderer Camp yang baru saja berakhir Minggu (27/10) ini. Ajang perdana yang mempertemukan ratusan penggiat alam se-Kaltim ini layak mendapatkan apresiasi khusus. Bukan sekadar kesuksesan pelaksanaannya, lebih dari itu ada pesan tersirat yang ingin disampaikan dari gawe akbar garapan SukAdventure ini.

Dari segi acara, boleh dibilang Wanderer Camp yang berlangsung di Kebun Raya Unmul Samarinda (KRUS), 26-27 Oktober kemarin meraup sukses besar. Hampir 800 orang yang ikut dalam kegiatan ini, jauh lebih banyak dari target yang dipatok panitia. Tapi sekali lagi, ini bukan bicara tentang keuntungan finansial. Karena peserta hanya cukup membayar Rp 10 ribu untuk registrasi, dengan benefit yang jauh lebih tinggi.

“Bandingin saja, cuma Rp 10 ribu, peserta sudah dapat buff atau bandana, free kopi di lokasi acara dan makan malam. Jadi acara ini murni bukan mencari profit,” ucap owner SukAdventure, Amir, beberapa hari sebelum acara digelar.

Semakin memeriahkan acara ini, sejumlah bintang tamu ikut dihadirkan. Sebut saja nama Medina Kamil, mantan presenter program televisi Jejak Petualang, yang harus diakui menjadi magnet terkuat mengundang para peserta. Tapi jangan salah, meski tak setenar Medina, Erick Kelana, Kang Abi, Yudi Avtech dan Ranger Deden, adalah orang-orang hebat di bidangnya.

Erick Kelana misalnya, pria gondrong yang akrab disapa Babe ini, adalah seorang penjelajah sejati. Kecintaannya pada alam mengantarkan ia pada satu kesadaran, bahwa kekayaan Indonesia itu ada pada Sumber Daya Manusia (SDM), bukan pada Sumber Daya Alam (SDA).

“SDA bisa habis untuk kepentingan kapitalis, kekayaan kita itu pada SDM melalui kekuatan budaya lokal, sebagai garda utama melindungi kebudayaan dan alam itu sendiri,”

Erick Kelana (Penjelajah dan Ekspeditor Kalimantan)

Lalu ada nama Kang Abi, seorang mantan reporter radio. Kerap terjun langsung dalam peliputan kebencanaan, lelaki berkacamata ini justru terusik nuraninya untuk bisa berbuat lebih atas dasar kemanusiaan. “Kalau sekadar bertugas meliput, saya tak bisa membantu para korban. Padahal wartawan itu biasanya orang pertama yang berada di lokasi bencana, melihat langsung kondisinya,” tutur pria yang aktif sebagai Relawan Nusantara tersebut.

Kemudian ada pendaki profesional, Ranger Deden serta owner dari outdoor equipment Avtech. Dengan pengalamannya itu, mereka tak pelit untuk membagi ilmunya. Bukan semata tentang proses bertualang, namun juga menumbuhkan kesadaran bagaimana menjaga anugerah Tuhan itu agar tetap bisa diwariskan ke generasi masa depan.

Sementara itu Medina Kamil dalam materinya, memfokuskan pada pemanfaatan sosial media. Perempuan cantik ini mengatakan, usahakan selalu ada pesan positif yang bisa disampaikan dalam unggahan di medsos saat menikmati alam bebas.

“Eksplorasi alam dengan rendah hati dan bawa kembali sampahmu,”

Medina Kamil

Dikemas dalam konsep camping, event ini mengusung sebuah gerakan moral sesuai dengan tema yang diangkat “Merajut Harmoni dan Kepedulian Alam”. Masing-masing bintang tamu yang menjadi pemateri dalam sharing session, banyak menjelaskan tentang pentingnya menjaga harmonisasi dengan alam. Sebuah kampanye yang sarat akan pesan positif, bukan cuma seru-seruan, tak sekadar mencari foto-foto cantik untuk dipamerkan. Tapi juga membangun solidaritas, kebersamaan dan menciptakan simbiosis mutualisme dengan alam.

“Semoga Wanderer Camp ini bisa menjadi inspirasi, menyatukan para penggiat alam lokal dalam sebuah kebersamaan dan semangat yang sama untuk semakin mencintai lingkungan. Harapannya juga kegiatan ini akan terus ada, bukan cuma dari kami tapi siapa pun dan di mana pun bisa,” Adit, Ketua Panitia Wanderer Camp mengurai asa.

Bertepatan pula dengan momentum 91 tahun Sumpah Pemuda, dalam kegiatan ini panitia juga membuat sebuah bendera raksasa yang dibentangkan bersama-sama dengan seluruh peserta. Sebuah simbol bahwa keberagaman yang ada di Nusantara bukan menjadikan kita terpecah, tetapi justru menjadi pemersatu dalam bingkai NKRI.

Salam lestari.

Dee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *