Sambut Sang Juara, Astra Motor Samarinda Gelar Champion Celebration untuk Rizal

Umum

Berkompetisi adalah menjadi juara. Strategi, mental dan doa adalah kuncinya. Jangan sekadar jadi peserta dan meramaikan, tapi datang untuk jadi pemenang.

Prinsip ini dipegang teguh Instruktur Safety Astra Motor Samarinda, Ibnu Fachrizal, saat mengikuti ajang the 20th Safety Japan Instructors 2019, beberapa hari lalu. Hasilnya, dengan kepala tegak ia mampu meraih hasil sempurna dan membawa harum nama Indonesia. Terlebih ini adalah untuk kedua kali berturut-turut, Rizal mempertahankan gelar juaranya di ajang yang sama.

“Tentu ini menjadi lebih berat, karena beban sebagai juara tahun lalu,” ucap Rizal.

Atas keberhasilannya ini, Astra Motor Samarinda menyambut kedatangan pria berkacamata ini dengan menggelar Champion Celebration,Selasa (8/10). Bahwa hal ini tak hanya membawa kebanggaan personal, namun ikut menjadi kebahagiaan seluruh manajemen Astra selaku main dealer sepeda motor Honda.

“Keberhasilan Rizal ini semakin menyempurnakan kiprah Honda setelah Marc Marquez berhasil mengunci gelar di MotoGP tahun ini,” ucap Kepala Wilayah Astra Motor Samarinda Lukas Ferinata.

Lebih jauh, Rizal menceritakan bagaimana persiapannya menjelang kompetisi berlangsung. Selama 3 minggu ia mengikuti pelatihan intensif di daerah Cimahi, Jawa Barat. Setelah itu bertolak ke Jepang dan kembali berlatih, sebelum turun di kompetisi sesungguhnya yang digelar di Suzuka Circuit, Jepang.

Berlaga di kelas CBF400 SF, Rizal mengakui lawannya kali ini cukup berat. Dengan predikat sebagai juara bertahan, tentu pesaing dari negara lain telah mempersiapkan segalanya lebih matang. Sempat hanya menduduki peringkat kedua di rintangan pertama dan juga tak dapat nilai tertinggi di level selanjutnya, Rizal mematok poin sempurna di fase akhir. Meski sempat ada perbedaan pendapat terkait strategi dengan rekan timnya, namun dengan kepercayaan diri Rizal mampu melahap fase akhir ini sesuai target dan mengantarnya mempertahankan prestasi sebagai juara.

Secara umum, Rizal menuturkan faktor keselamatan berkendara adalah hal yang harus dibudayakan. Skill berkendara harus dibarengi dengan etika terhadap sesama pengguna jalan. Di mana hal ini menjadi pembeda yang paling utama terkait safety riding antara Indonesia dan Jepang.

“Kalau di sana itu sudah jadi budaya dan lebih mengutamakan etika. Contoh, pengemudi harus mengalah terhadap pejalan kaki, jadi betul-betul ketika datang ke pusat pelatihan safety mereka lebih fokus pada pendalaman skill berkendaranya,” pungkasnya.

Dee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *